




MyNiceSpace.com
MeRekA tkKan pErNah tAu TeNtaNg Qta... Tak pErNah sEdikiTpUn pAHaMi kiSaH Qta.. SuDahLaH jaNgaN bErLarI tUk bErSedih,, kaReNa aDa Aq DiSiNi tUk MenGeRti pEraSaaNmu. . . Hari iNi hAruS aQ kaTakaN aQ mENciNtaImu bUkaN kaReNa sIapApuN,, atAu kAreNa MerEka.. CiNta itU ButuH pEnGorBaNan Hati.. dAn ciNta tAk ButuH waKtU yaNg sEsaAt. . . JikA bErtAHaN,, cInTa itU MiLik QtA . . . JikA cInta dAsaR daRi SeMua iNi,, HadaPiLah sEgaLaNya dENgaN LapaNg DaDa.. MeSki NaNti pAhiT dI sANa. . .
Kota Kepahiang sejak zaman penjajahan Belanda dikenal sebagai ibukota Kabupaten Rejang Lebong yang pada waktu itu disebut afdeling Rejang Lebong dengan ibu kotanya Kepahiang. Pada zaman pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun, Kepahiang tetap merupakan pusat pemerintah Kabupaten Rejang Lebong.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tanggal 18 Agustus 1945 sampai dengan tahun 1948, Kepahiang tetap menjadi ibukota Kabupaten Rejang Lebong dan menjadi ibukota perjuangan karena mulai dari pemerintahan sipil dan seluruh kekuatan perjuangan terdiri dari Laskar Rakyat, Badan Perlawanan Rakyat (BTRI dan TKR sebagai cikal bakal TNI juga berpusat di Kepahiang.
Pada tahun 1948 terjadi aksi Militer Belanda ke II, maka untuk mengantisipasi gerakan penyerbuan tentara Belanda ke pusat pemerintah dan pusat perlawanan ini, seluruh fasilitas yang ada terdiri dari ; Kantor Bupati, Gedung Daerah, Kantor Polisi, Kantor Pos dan Telepon, penjara serta jembatan yang akan menghubungkan Kota Kepahiang dengan tempat lainnya semua dibumihanguskan.